Hmf.. Selalu pingin marah, selalu pusing & mikir kalo customer complain. Well, aku kerja souvenir sudah hampir 4 tahun. Banyak suka dukanya. Dari terima pujian, dapet repeat order customer yang loyal sampai dapet complain yg maki maki sampai mau lapor polisi
Yah, hari ini dpt pujian dari customer cukup banyak, tapi di penutup malam ini ada customer Surabaya ( biasanya emang ibu2 Surabaya lebih cerewet & selalu cari kesalahan ) The problem is verryyyy simple. Jadi dia pesen box dgn pangkon ( aku promoin tiap barang ga goyang ), dan ternyata waktu dia trima barang cookies jar nya pada berantakan ga di bolongan pangkon. Ya owohh!! Ngomelnya kaya gimana gitu. "Pangkon katanya biar ga goyang, harga beda lagi!"
Ya itu salahku, aku promosiin nya biar barang ga goyang & kebetulan tukan box ku lagi salah buat box dimana pangkon nya longgar banget.
"Jadi aku harus bukain 1 1 buat rapiin? Gimana dong solusi nya?" Heii, bukannya ga berantakan pun km pasti bukain 1 1 demi cari segala kesalahan???
Kadang pingin banget keluar dari kerjaan ini, seneng sih dpt pujian dari customer tapi begitu 1 aja customer complain rasanya bikin males banget. Aku slalu usahain yg terbaik, tp ternyata terbaikku ga cukup buat mereka.
Yang aku mau tanyain. "Apa orang2 penjual souvenir sama seperti aku? Capek, kadang pingin mundur dari kerjaan ini. Pernah di hujat sama customer? Dibilang kalo kaya gini kerjanya mendingan ga usa jualan!"
Secepetnya pingin punya banyak uang, ga kerja ga masalah. Ga pingin berusaha terus senengin orang, capek! Aku disini cuma kerja, ga ada niatan mau kasih barang jelek. Ga ada niatan mau kirim dlm keadaan cuwil kek, berantakan kek, penyok kek!
Kadang cuma dengan 1 customer complain, kepingin banget pergi kabur sejenak. Liburan, lupain complain customer. Dan kadang aku merasa aku yg salah, terlalu dengerin complain 1 customer.
Point yang terpenting, plisss.. Complain dengan sopan tanpa memaki, dan poin yang terpenting buat aku, SAY SORRY FIRST!
Friday, October 7, 2016
Tuesday, September 27, 2016
4 Jari Berdarah
Hari Sabtu, terulang kembali..
Aku selalu tidak tahu apa kesalahanku, apa pergi dengan Papa kandung itu salah?
Hari Sabtu, Papa tiriku selalu pulang kerja lebih awal. Dia selalu menungguku di ruang makan sambil mengintip keluar pagar. Menungguku pulang, dengan mobil Papa kandungku. Itu menjadi hobby nya di hari Sabtu. Menghukumku, dengan berbagai alasan.
Aku turun dari mobil Jeep papaku, aku tahu aku bakal di hukum setelah masuk rumah. Ya, benar! Aku langsung di panggi ke ruang makan ( tempat favorit untuk menghukum )
Dia mengeluarkan sebuah surat kecil. Itu tulisan tanganku berisi "Elek seperti kelek, bau pesing ga pernah mandi" Waktu kecil sudah biasa menjadi guyonan, itu sudah hal yang wajar!! Dan aku sebagai anak kecilpun tahu, itu guyonan yg tidak perlu dipermasalahkan. Tulisan itu aku kasih ke suster. Ga disangka, surat itu ada di papa tiriku
Papa tiriku menyuruhku membaca tulisan itu. Perintah selanjutnya, aku harus membuka tangan kananku diatas meja makan marmer. Ternyata dia sudah menyiapkan penggaris sepanjang 60cm. Aku tahu, dia akan memukul tanganku. Tapi yang tidak pernah aku sangka, dia memukul tanganku dengan posisi penggaris bagian tajam di bawah, langsung mengenai kulitku. Sakiitttt!! Ke 4 jariku semua berdarah ( kecuali jempol ). Setiap jariku bergetar, berusaha terus membuka telapak. Tapi dalam hatiku, aku tertawa "Bodoh sekali orang ini, aku kidal, aku menulis dengan tangan kiri bukan tangan kanan!!"
Selama 1 minggu, setiap jariku panas. Satu satunya orang yang aku harapin cuma Mama yang bisa lindungin aku dari Papa tiriku. Tapi ternyata, ga seharipun tanganku di obatin, ga seharipun aku dilindungin
Terimakasih Mama & Papa tiriku!!
Aku selalu tidak tahu apa kesalahanku, apa pergi dengan Papa kandung itu salah?
Hari Sabtu, Papa tiriku selalu pulang kerja lebih awal. Dia selalu menungguku di ruang makan sambil mengintip keluar pagar. Menungguku pulang, dengan mobil Papa kandungku. Itu menjadi hobby nya di hari Sabtu. Menghukumku, dengan berbagai alasan.
Aku turun dari mobil Jeep papaku, aku tahu aku bakal di hukum setelah masuk rumah. Ya, benar! Aku langsung di panggi ke ruang makan ( tempat favorit untuk menghukum )
Dia mengeluarkan sebuah surat kecil. Itu tulisan tanganku berisi "Elek seperti kelek, bau pesing ga pernah mandi" Waktu kecil sudah biasa menjadi guyonan, itu sudah hal yang wajar!! Dan aku sebagai anak kecilpun tahu, itu guyonan yg tidak perlu dipermasalahkan. Tulisan itu aku kasih ke suster. Ga disangka, surat itu ada di papa tiriku
Papa tiriku menyuruhku membaca tulisan itu. Perintah selanjutnya, aku harus membuka tangan kananku diatas meja makan marmer. Ternyata dia sudah menyiapkan penggaris sepanjang 60cm. Aku tahu, dia akan memukul tanganku. Tapi yang tidak pernah aku sangka, dia memukul tanganku dengan posisi penggaris bagian tajam di bawah, langsung mengenai kulitku. Sakiitttt!! Ke 4 jariku semua berdarah ( kecuali jempol ). Setiap jariku bergetar, berusaha terus membuka telapak. Tapi dalam hatiku, aku tertawa "Bodoh sekali orang ini, aku kidal, aku menulis dengan tangan kiri bukan tangan kanan!!"
Selama 1 minggu, setiap jariku panas. Satu satunya orang yang aku harapin cuma Mama yang bisa lindungin aku dari Papa tiriku. Tapi ternyata, ga seharipun tanganku di obatin, ga seharipun aku dilindungin
Terimakasih Mama & Papa tiriku!!
Thursday, September 1, 2016
Mainan Terakhir
Lupa persisnya, waktu itu aku kelas berapa. Sekitar kelas 2 SD awal..
Seperti biasa, hari Sabtu aku selalu di jemput Papa, kita makan McD. Namun setelah itu, aku memaksa Papa untuk lihat mainan di lantai atas..
Dari awal Papa sudah bilang, dia ga ada uang saat itu. Papa melarang aku beli mainan, untuk kali itu saja. Tapi entah kenapa, aku sangat memaksa Papa untuk membelikanku mainan, walau aku ga tau mainan apa yang mau aku pilih..
Sambil di gandeng Papa, aku berkeliling dan mencari mainan. Aku benar benar ga tau, harus beli mainan yang mana, tapi pokoknya harus beli mainan *itu yang ada dipikiranku saat itu..
Waktu kecil, entah kenapa aku senang main pedang pedangan & robot. Aku asal saja menunjuk mainan robot, lalu Papa membungkukkan badan berkata sekali lagi "Papa lagi ga ada uang, minggu depan aja beli" dan Papa menggandengku kembali berkeliling
Akhirnya aku menunjuk 1 mainan, troley mini berisi makanan makanan plastik. Aku bilang ke Papa, aku belum punya mainan ini, teman temanku sudah punya
Papa pun mengalah, dan membelikan aku mainan troley mini. Senang sekali membawa pulang mainan itu. Masih ingat sekali, aku susun troley dan isi isinya, aku taruh di depan ranjangku sebelah lemari pakaian
Dan lagi lagi, drama setiap Sabtu. Papa tiriku tau aku pergi dengan Papa kandungku. Dia marah besar. Mengangkat mainan troley miniku "Ini dari Papa Jiang kan??" Sambil mengambil koper kecil, dan 1 baju dress aku dimarahi & dan diusir dari rumah
Aku masih ingat, aku dijewer. Telingaku di tarik bersama badanku keluar rumah. Aku tau, dan aku merasa ini adalah hari terakhir aku dimahari Papa tiriku *entah dari mana insting itu datang
Seperti biasa, aku dimarahi Papa tiriku tidak cukup sejam, 2 jam, 1 hari, bahkan lebih. Keesokan harinya, disaat aku disuapi susterku dan segera bersiap ke sekolah, Mama menghampiriku ke kamar. "Kamu ga usa sekolah hari ini, besok kamu tinggal & sekolah di Bali". Sewajarnya anak kecil, aku senang aku tidak perlu sekolah hari itu. Mama cepat cepat mempersiapkan tiket bus, dan segala keperluanku di Bali..
Keesokan harinya, aku pergi ke Bali. Tanpa berpamitan dengan teman teman di sekolah, dan tentu saja tanpa berpamitan dengan Papaku. Dan perlahan aku sadar, troley mini adalah mainan terakhir dari Papa
Seperti biasa, hari Sabtu aku selalu di jemput Papa, kita makan McD. Namun setelah itu, aku memaksa Papa untuk lihat mainan di lantai atas..
Dari awal Papa sudah bilang, dia ga ada uang saat itu. Papa melarang aku beli mainan, untuk kali itu saja. Tapi entah kenapa, aku sangat memaksa Papa untuk membelikanku mainan, walau aku ga tau mainan apa yang mau aku pilih..
Sambil di gandeng Papa, aku berkeliling dan mencari mainan. Aku benar benar ga tau, harus beli mainan yang mana, tapi pokoknya harus beli mainan *itu yang ada dipikiranku saat itu..
Waktu kecil, entah kenapa aku senang main pedang pedangan & robot. Aku asal saja menunjuk mainan robot, lalu Papa membungkukkan badan berkata sekali lagi "Papa lagi ga ada uang, minggu depan aja beli" dan Papa menggandengku kembali berkeliling
Akhirnya aku menunjuk 1 mainan, troley mini berisi makanan makanan plastik. Aku bilang ke Papa, aku belum punya mainan ini, teman temanku sudah punya
Papa pun mengalah, dan membelikan aku mainan troley mini. Senang sekali membawa pulang mainan itu. Masih ingat sekali, aku susun troley dan isi isinya, aku taruh di depan ranjangku sebelah lemari pakaian
Dan lagi lagi, drama setiap Sabtu. Papa tiriku tau aku pergi dengan Papa kandungku. Dia marah besar. Mengangkat mainan troley miniku "Ini dari Papa Jiang kan??" Sambil mengambil koper kecil, dan 1 baju dress aku dimarahi & dan diusir dari rumah
Aku masih ingat, aku dijewer. Telingaku di tarik bersama badanku keluar rumah. Aku tau, dan aku merasa ini adalah hari terakhir aku dimahari Papa tiriku *entah dari mana insting itu datang
Seperti biasa, aku dimarahi Papa tiriku tidak cukup sejam, 2 jam, 1 hari, bahkan lebih. Keesokan harinya, disaat aku disuapi susterku dan segera bersiap ke sekolah, Mama menghampiriku ke kamar. "Kamu ga usa sekolah hari ini, besok kamu tinggal & sekolah di Bali". Sewajarnya anak kecil, aku senang aku tidak perlu sekolah hari itu. Mama cepat cepat mempersiapkan tiket bus, dan segala keperluanku di Bali..
Keesokan harinya, aku pergi ke Bali. Tanpa berpamitan dengan teman teman di sekolah, dan tentu saja tanpa berpamitan dengan Papaku. Dan perlahan aku sadar, troley mini adalah mainan terakhir dari Papa
Thursday, August 25, 2016
Sabtu Bersama Papa
Seingatku..
Yah, sedih rasanya menjadi anak broken home. Dari dalam lubuk hatiku paling dalam, aku iri dengan teman temanku. Mama Papa mereka masih bersama.. ke Gereja bersama.. ke Mall bersama. Namun saat itu, aku masih terlalu kecil untuk lama lama bersedih, ya aku masih TK A
Waktu itu hari Sabtu, dimana teman teman ingin segera pulang & menghabiskan waktu bersama mama & papa. Aku bergegas lari ke luar sekolah..
Dari kejauhan, aku melihat kabur, sesosok lelaki yang aku kenal, iya.. Papaku! Aku lari ke arah dia, senang rasanya bisa di jemput Papa..
"Mulai sekarang setiap Sabtu, Papa yang jemput Karina ya?"
Yah, sedih rasanya menjadi anak broken home. Dari dalam lubuk hatiku paling dalam, aku iri dengan teman temanku. Mama Papa mereka masih bersama.. ke Gereja bersama.. ke Mall bersama. Namun saat itu, aku masih terlalu kecil untuk lama lama bersedih, ya aku masih TK A
Setiap Sabtu, Papa menjemputku. Kesedihan ku menghilang. Bersama Emak (nenek), Akhu (tante) & Papa, kita selalu pergi ke Delta Mall. Kegiatan pertama pasti ke McD, dan selalu koleksi Happy Meal. Sangkin seringnya koleksi Happy Meal aku lengkap, tidak ada yang terlewat..
Dan 1 lagi yang aku ingat.. Waktu makanku lamaaa sekali, 1 porsi bisa 2 jam kata Papa. Jadi sambil bermain di McD, sambil di suapin suster..
Waktuku tidak lama bersama Papa di hari Sabtu. Sangat sebentar! Maximal jam 3 aku harus segera pulang ke rumah. Dan rasa sedih itu datang lagi....
Waktuku tidak lama bersama Papa di hari Sabtu. Sangat sebentar! Maximal jam 3 aku harus segera pulang ke rumah. Dan rasa sedih itu datang lagi....
Subscribe to:
Posts (Atom)